ke Keraton Jogja
gila cuaca panas banget..., mana musti jadi guide lagi...
saya diminta seseorang untuk menemani melihat-lihat sejarah keraton, sebut aja seseorang itu dengan inisial JM.
Kebetulan Beliau sedang di Jogja untuk mengikuti seminar di hotel Saphir selama beberapa hari. dan walaupun acara seminar hari senin, tapi dah dibela-belain datang sabtu sore supaya bisa keliling jogja,...
dan saya... terkena imbas juga.... hehehe, siang gene musti jalan-jalan ke keraton...
"napa sih Pak ngebet banget ke keraton?... memangnya ini baru pertama kali ke jogja?" kami berjalan beriringan menuju tempat pembelian karcis.
"yaa.. melihat-lihat sejarah... "JM mengeluarkan uang sepuluh ribuan dari dalam dompet dan diserahkan ke petugas.
"wah.. sejarah ngapain dilihat, sejarah itu kan masa lalu, toh yang lalu biarlah berlalu... "balasku sambil melihat-lihat sekeliling, siapa tahu ada orang yang aku kenal diantara sekian banyak yang lalu lalang.
"hmm....dasar anak muda sekarang....."
"hehe, gak kok Pak. becanda doang. tadinya saya pikir ke keraton mau lihat dayang putri keraton... kalo cuma pengen lihat putri jawa yang manis, nih aku sample-nya.."
"hahaha....."
beberapa orang jadi melirik melihat Beliau tertawa [setengah] ngakak.
Petama masuk kedalam, saya langsung terpesona melihat pertunjukan seni di pendopo sebelah barat.
wow.. segera saja saya gesit menyelinap diantara penonton yang hampir 3/4 semuanya Bule.
untuk urusan budaya seperti ini, pertunjukan seni, saya hobby banget, nomer satu deh kalo diajak menyaksikan pertunjukan seni semua daerah.., yahh.. mungkin ini akibat saya besar di pulau yang kurang memiliki khasanah budaya tradisional daerah...
jadi, ketika hijrah ke Jogja... sering banget saya terkagum-kagum dengan pertunjukan seni. Pernah juga rela menghabiskan waktu sepanjang malam demi nonton pertunjukan wayang kulit, sekalipun saat itu sang Dalang menggunakan bahasa inggris,... hehehe, jadinya ya gitu deh... gak ngerti jalan ceritanya :D
udah masuk babak cerita kedua, saya masih setia melototin pentas seni ini, sementara dari gerak tubuhnya, saya ngerti kalau saat ini JM udah mulai bosan, hmm, mungkin dia gak suka pentas seni, tapi seneng liat benda-benda sejarah aja. dan benar saja...
"masuk ke dalam yuk.."
"gak ah, mo tunggu sampe ini selesai. asik.."
"ya sudahlah, kalau memang lies suka.."
10 menit kemudian...
"ini masih lama nggak lies?"
"gak tau juga sih Pak. napa? nggak suka ya liat pertunjukan ini?"
"enggak. nggak apa-apa. disini aja dulu kalau lies suka"
"oke deh."
5 menit kemudian...
"lies, kalau masih lama, mending saya jalan lihat-lihat ke dalam saja ya?.."
"iya deh silahkan..., saya disini aja"
hihihi.. akhirnya JM meninggalkan saya yang masih juga fokus menatap penuh melihat pementasan seni. sempat saya melihat ketika JM berjalan sendirian sambil mengamati bangunan pintu besar yang sudah tua. saya akui, hari ini, saya bukanlah tuan rumah yang baik hahaha... meninggalkan tamu sendirian mengelilingi keraton...
seiring adzan dhuhur, pertunjukan selesai. Saya masih juga berdiri sampai akhirnya satu persatu bule-bule berhamburan menuju dalam keraton. ahh.. lega, akhirnya sekarang bisa duduk dikursi-kursi yang sudah kosong. sambil menunggu JM saya melihat pajangan alat musik tradisional di pendopo satunya.
kira-kira hampir jam 1 siang, selesai sudah acara mengunjungi keraton. Kami jalan keluar sambil mencari taxi. Tak henti-hentinya JM melayangkan protes karena dia sendirian mengelilingi keraton sementara saya malah berhenti disatu titik dan tidak mau menemani dia jalan. sebelum naik taxi, JM sempat protes lagi,
"iri lihat orang lain pake guide semua, saya yang tamu malah mengantar dan menunggui guide yang asik sendiri nonton pentas,.."
"hehehe..." saya cuma tertawa terkekeh kekeh, "cari makan yuk Pak. sepertinya perutku dah keroncongan, dari tadi makan protes..."sambungku sambil mengekspresikan wajah orang yang sedang murung.
"hahahaha..., yuk"
saya diminta seseorang untuk menemani melihat-lihat sejarah keraton, sebut aja seseorang itu dengan inisial JM.
Kebetulan Beliau sedang di Jogja untuk mengikuti seminar di hotel Saphir selama beberapa hari. dan walaupun acara seminar hari senin, tapi dah dibela-belain datang sabtu sore supaya bisa keliling jogja,...
dan saya... terkena imbas juga.... hehehe, siang gene musti jalan-jalan ke keraton...
"napa sih Pak ngebet banget ke keraton?... memangnya ini baru pertama kali ke jogja?" kami berjalan beriringan menuju tempat pembelian karcis.
"yaa.. melihat-lihat sejarah... "JM mengeluarkan uang sepuluh ribuan dari dalam dompet dan diserahkan ke petugas.
"wah.. sejarah ngapain dilihat, sejarah itu kan masa lalu, toh yang lalu biarlah berlalu... "balasku sambil melihat-lihat sekeliling, siapa tahu ada orang yang aku kenal diantara sekian banyak yang lalu lalang.
"hmm....dasar anak muda sekarang....."
"hehe, gak kok Pak. becanda doang. tadinya saya pikir ke keraton mau lihat dayang putri keraton... kalo cuma pengen lihat putri jawa yang manis, nih aku sample-nya.."
"hahaha....."
beberapa orang jadi melirik melihat Beliau tertawa [setengah] ngakak.
Petama masuk kedalam, saya langsung terpesona melihat pertunjukan seni di pendopo sebelah barat.
wow.. segera saja saya gesit menyelinap diantara penonton yang hampir 3/4 semuanya Bule.
untuk urusan budaya seperti ini, pertunjukan seni, saya hobby banget, nomer satu deh kalo diajak menyaksikan pertunjukan seni semua daerah.., yahh.. mungkin ini akibat saya besar di pulau yang kurang memiliki khasanah budaya tradisional daerah...
jadi, ketika hijrah ke Jogja... sering banget saya terkagum-kagum dengan pertunjukan seni. Pernah juga rela menghabiskan waktu sepanjang malam demi nonton pertunjukan wayang kulit, sekalipun saat itu sang Dalang menggunakan bahasa inggris,... hehehe, jadinya ya gitu deh... gak ngerti jalan ceritanya :D
udah masuk babak cerita kedua, saya masih setia melototin pentas seni ini, sementara dari gerak tubuhnya, saya ngerti kalau saat ini JM udah mulai bosan, hmm, mungkin dia gak suka pentas seni, tapi seneng liat benda-benda sejarah aja. dan benar saja...
"masuk ke dalam yuk.."
"gak ah, mo tunggu sampe ini selesai. asik.."
"ya sudahlah, kalau memang lies suka.."
10 menit kemudian...
"ini masih lama nggak lies?"
"gak tau juga sih Pak. napa? nggak suka ya liat pertunjukan ini?"
"enggak. nggak apa-apa. disini aja dulu kalau lies suka"
"oke deh."
5 menit kemudian...
"lies, kalau masih lama, mending saya jalan lihat-lihat ke dalam saja ya?.."
"iya deh silahkan..., saya disini aja"
hihihi.. akhirnya JM meninggalkan saya yang masih juga fokus menatap penuh melihat pementasan seni. sempat saya melihat ketika JM berjalan sendirian sambil mengamati bangunan pintu besar yang sudah tua. saya akui, hari ini, saya bukanlah tuan rumah yang baik hahaha... meninggalkan tamu sendirian mengelilingi keraton...
seiring adzan dhuhur, pertunjukan selesai. Saya masih juga berdiri sampai akhirnya satu persatu bule-bule berhamburan menuju dalam keraton. ahh.. lega, akhirnya sekarang bisa duduk dikursi-kursi yang sudah kosong. sambil menunggu JM saya melihat pajangan alat musik tradisional di pendopo satunya.
kira-kira hampir jam 1 siang, selesai sudah acara mengunjungi keraton. Kami jalan keluar sambil mencari taxi. Tak henti-hentinya JM melayangkan protes karena dia sendirian mengelilingi keraton sementara saya malah berhenti disatu titik dan tidak mau menemani dia jalan. sebelum naik taxi, JM sempat protes lagi,
"iri lihat orang lain pake guide semua, saya yang tamu malah mengantar dan menunggui guide yang asik sendiri nonton pentas,.."
"hehehe..." saya cuma tertawa terkekeh kekeh, "cari makan yuk Pak. sepertinya perutku dah keroncongan, dari tadi makan protes..."sambungku sambil mengekspresikan wajah orang yang sedang murung.
"hahahaha..., yuk"

<< Home